My Blog Muhammad Khiabani Fakhri

Just another iMe (iLearning Media) site

By

UL501A Etika Profesi – Latihan Pertemuan 3

Latihan Soal Ujian Etika Profesi

  1. Jelaskan hubungan antara etika, filsafat dan ilmu pengetahuan.
  2. Jelaskan hubungan antara etika, moral, norma dan hukum.
  3. Jelaskan hubungan antara etika, agama dan adat.
  4. Jelaskan isu-isu pokok etika komputer
  5. Sebutkan dan jelaskan empat perspektif pendekatan standar profesional
  6. Jelaskan perbedaan antara profesi, profesional dan profesionalisme
  7. Jelaskan perbedaan norma-norma dalam masyarakat ( norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan dan norma hukum ).
  8. Jelaskan dan berikan contoh isu-isu etika moral dan isu-isu etika bisnis.

Jawab :

1. Hubungan Etika, Filsafat, dan dan ilmu pengetahuan :

  • Filsafat adalah bagian dari ilmu pengetahuan yang berfungsi sebagai interpretasi tentang hidup manusia.
  • Etika merupakan bagian dari filsafat, yaitu filsafat moral. Filsafat moral adalah cabang dari filsafat tentang tindakan manusia
  • Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu pengetahuan dengan suatu cara yang berada di luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan. Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerangkan: Ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi yang faktual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuwan yang juga filsuf.

Kesimpulan :

  • suatu ilmu yang mempelajari perbuatan baik dan buruk manusia berdasarkan kehendak dalam mengambil keputusan yang mendasari hubungan antar sesama manusia.

2. Jika kita membahas tentang norma, etika, moral dan hukum tentunya kita tidak dapat melepaskannya dari segi moral. Dari arti kata, etika dapat disamakan dengan moral. Moral berasal dari bahasa latin mos yang berarti adat kebiasaan.
Beberapa ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda tantang hubungan antara moral dan etika. Menurut Lawrence Konhberg terdapat hubungan antara moral dengan etika. Menurut Lawrence Konhberg pendidikan moral merupakan dasar dari pembangunan etika. Pendidikan moral itu sendiri terdiri dari ilmu sosiologi, budaya, antropologi, psikologi, filsafat,pendidikan, dan ilmu poitik. Pendapat Lawrence Konhberg berbeda dengan pendapat Sony Keraf. Soni Keraf membedakan antara moral dengan etika. Nilai-nilai moral mengandung nasihat, wejangan, petuah, peraturan, dan perintah turun temurun melalui suatu budaya tertentu. Sedangkan etika merupakan refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma manusia yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan perilaku hidup manusia.
Karena etika dan moral saling mempengaruhi, maka keduanya tentu memiliki hubungan yang erat dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Norma sebagai bentuk perwujudan dari etika dan moral yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Norma tersebut dapat berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Meski tiap daerah memiliki norma yang berbeda-beda namun tujuannya tetap sama yaitu mengatur kehidupan bermasyarakat agar tercipta suasana yang mendukung dalam hidup bermasyarakat. Sedangkan hukum merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat yang memiliki etika, moral, dan norma-norma didalamnya Hukum berperan sebagai `penjaga` agar etika, moral, dan norma-norma dalam masyarakat dapat berjalan dengan baik. Apabila terjadi pelanggaran terhadap etika,moral, dan norma maka hukum akan berperan sebagai pemberi sanksi. Sanksi tersebut dapat berupa sanksi sosial sebagai akibat dari pelanggaran norma-norma sosial masyarakat dan sanksi hukum apabila norma-norma yang dilanggar juga termasuk dalam wilayah peraturan hukum yang berlaku.

3. Hubungan antara ETIKA dan ADAT-ISTIADAT

  • Adat istiadat adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya.
  • Adat istiadat dapat dimaksudkan dengan Etika perangai yang diartikan sebagai kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan bermasyarakat di daerah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula. Etika perangai tersebut diakui dan berlaku karena disepakati masyarakat berdasarkan hasil penilaian perilaku. (Sumaryono (1995))

Hubungan antara ETIKA dan AGAMA

  • Etika tidak dapat menggantikan agama. Agama merupakan hal yang tepat untuk memberikan orientasi moral. Pemeluk agama menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya. Akan tetapi agama itu memerlukan ketrampilan etika agar dapat memberikan orientasi, bukan sekadar indoktrinasi.
  • Etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional semata-mata sedangkan agama pada wahyunya sendiri. Oleh karena itu ajaran agama hanya terbuka pada mereka yang mengakuinya sedangkan etika terbuka bagi setiap orang dari semua agama dan pandangan dunia. ( Etika Profesi, 2006).

4. Kejahatan komputer, Cyber ethic, E – commers, Pelanggaran Hak Atas Intelektual, Tanggung jawab Profesi

5 . Empat perspektif pendekatan, yaitu :

1. Pendekatan berorientasi filosofis.
Ada 3 hal pokok yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat profesionalisme :

Pendekatan lambang profesional
Lambang profesional yang dimaksud antara lain seperti sertifikat, lisensi, dan akreditasi.
Pendekatan sikap individu
Pendekatan ini melihat bahwa layanan individu pemegang profesi diakui oleh umum dan bermanfaat bagi penggunanya
Pendekatan electic
Pendekatan ini melihat bahwa proses profesional dianggap sebagai kesatuan dari kemampuan, hasil kesepakatan dan standar tertentu.

2.Pendekatan perkembangan bertahap

Orientasi perkembangan menekankan pada enam langkah dalam proses berikut :
– berkumpulnya individu-individu yang memiliki minat yang sama terhadap suatu profesi.
– melakukan identifikasi dan adopsi terhadap ilmu pengetahuan tertentu untuk mendukung profesi yang dijalaninya.
– setelah individu-individu berkumpul, selanjutnya para praktisi akan terorganisasi secara formal pada suatu lembaga yang diakui oleh pemerintah dan masyarakat sebagai sebuah organisasi profesi.
– membuat kesepakatan mengenai persyaratan profesi berdasarkan pengalaman dan kualifikasi tertentu
– menentukan kode etik profesi yang menjadi aturan main dalam menjalankan sebuah profesi yang harus ditaati oleh semua anggota profesi yang bersangkutan
– revisi persyaratan berdasarkan kualifikasi tertentu seperti syarat akademis dan pengalaman melakukan pekerjaan di lapangan

3.Pendekatan berorientasi karakteristik
Ada delapan karakteristik pengembangan proses profesional yang saling terkait, yaitu :
– kode etik profesi yang merupakan aturan main dalam menjalankan sebuah profesi
– pengetahuan yang terorganisir yang mendukung pelaksanaan sebuah profesi
– keahlian dan kompetensi yang bersifat khusus
– tingkat pendidikan minimal dari sebuah profesi
– sertifikat keahlian yang harus dimiliki sebagai salah satu lambang profesional
– proses tertentu sebelum memangku profesi untuk bisa memikul tugas dan tanggung jawab dengan baik
– adanya kesempatan untuk menyebarluaskan dan bertukar ide di antara anggota
– adanya tindakan disiplin dan batasan tertentu jika terjadi malpraktik dan pelanggaran kode etik profesi

4.Pendekatan berorientasi non-tradisional
Menyatakan bahwa seseorang dalam bidang ilmu tertentu diharapkan mampu melihat dan merumuskan karakteristik yang unik dan kebutuhan sebuah profesi

Dengan pendekatan-pendekatan yang dibahas di atas, dapat disimpulkan bahwa mengukur profesionalisme bukanlah hal yang mudah karena profesionalisme tersebut diperoleh melalui suatu proses profesional, yaitu proses evolusi dalam mengembangkan profesi ke arah status profesional yang diharapkan.

6. Perbedaan antara Profesi, Profesional dan Profesionalisme

Dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang berkualitas termasuk di dalamnya penyelenggaraan pelayanan publik sangat diperlukan unsur profesionalisme sumber daya aparatur. Terabaikannya unsur profesionalisme sumber daya aparatur dalam menjalankan tugas dan fungsi organisasi pemerintahan akan berdampak kepada menurunnya kualitas penyelenggaraan pemerintahan.
Profesionalisme sangat mencerminkan sikap seseorang terhadap pekerjaan maupun jenis pekerjaannya/profesinya. Menurut Muhammad dalam Yuwono (2011:9), “Profesi adalah pekerjaan tetap bidang tertentu berdasarkan keahlian khusus yang dilakukan secara bertanggung jawab, dengan tujuan memperoleh penghasilan.” Pendapat lain di tambahkan oleh Yowono (2011:8) yang menyatakan bahwa, “Profesi adalah pengkhususan dari pekerjaan yang cakupannya masih luas….”
Jika dilihat dari pengertian profesi tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi merupakan sebuah pekerjaan yang telah dikhususkan berdasarkan keahlian dan kemampuan yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan. Berdasarkan kata profesi terebut maka muncullah kata profesional yang sering disebut-sebut kepada seseorang yang menjalankan profesi tersebut. Menurut Yuwono (2011:9) Profesional adalah, “Pekerja yang menjalankan profesi tersebut.” Sedangkan Profesional menurut Kurniawan (2005:73) adalah, “Suatu kemampuan dan keterampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan menurut bidang dan tingkatan masing-masing,” Dari pendapat tersebut maka saya menarik kesimpulan bahwa profesional adalah seseorang yang melakukan pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan dan keterampilan khusus dibidang pekerjaannya.
Untuk dapat membedakan antara profesi, profesional, dan profesionalisme maka perlu diketahui pengertian profesionalisme. Menurut Dwiyanto (2011:157) profesionalisme yaitu, “Paham atau keyakinan bahwa sikap dan tindakan aparatur dalam menyelenggarakan kegiatan pemerintahan dan pelayanan selalu didasarkan pada ilmu pengetahuan dan nilai-nilai profesi aparatur yang mengutamakan kepentingan publik.” Sedangkan profesionalisme menurut Siagian (2009:163) adalah, “Keandalan dan keahlian dalam pelaksanaan tugas sehingga terlaksana dengan mutu tinggi, waktu yang tepat, cermat, dan dengan prosedur yang mudah dipahami dan diikuti oleh pelanggan.”

7. PERBEDAAN MASING-MASING NORMA ITU ADALAH :

1. Norma ( kaedah ) AGAMA
A. Berasal dari TUHAN / ALLAH
B. Sanksinya bersifat internal (dosa )
C. Isinya ditujukan pada sikap lahir dan bathin
D. Daya kerjanya lebih menitik beratkan pada kewajiban dan hak

2. Norma ( kaedah ) KESUSILAAN / MORAL
A. Bersumber pada diri sendiri yang bersifat OTONOM
B. Sanksinya bersifat internal, yaitu dari pelaku sendiri
C. Isinya ditujukan pada sikap bathin
D. Bertujuan untuk kepentingan pelaku agar dia menyempurnakan dirinya sendiri
E. Daya kerjanya lebih menitik beratkan pada kewajiban

3. Norma ( kaedah ) KESOPANAN
A. Bersumber dari masyarakat yang tidak terorganisir
B. Sanksinya bersifat eksternal dalam wujud teguran, celaan dan pengusiran
C. Isinya ditujukan pada sikap lahir
D. Bertujuan untuk ketertiban masyarakat
E. Daya kerjanya pada kewajiban

4. Norma ( kaedah ) HUKUM
A. Bersumber dari masyarakat yang diwakili oleh suatu otoritas tertinggi dan terorganisir
B. Sanksinya bersifat eksteren dalam wujud pidana mati, penjara kurungan dan denda
C. Isinya mutlak ditujukan pada sikap lahir
D. Bertujuan untuk ketertiban masyarakat
E. Daya kerjanya mengharmonisasikan antara hak dan kewajiban

8. Etika dari Human Resource Management (HRM) mencakup isu-isu yang muncul disekitar relasi antara the employer-employee (majikan-pegawai), seperti hak-hak dan kewajiban yang dimiliki oleh masing-masing.
Isu-3: Ethics of human resource management
CONTOH:

  • isu-isu discrimination termasuk diskiminasi berdasar usia (ageism), gender, ras, agama, disability people/penyandang cacat, berat badan dan penampilan, sexual harrassment.
  • Isi-isu yang terkait dengan representasi dari pekerja dan demokrasi di tempat kerja: union busting, strike breaking.
  • Isu-isu yang mempengaruhi privacy karyawan/pekerja >> workplace surveillance, drug testing.

Leave a Reply